Jumat, 19 Desember 2014

Tantangan

Di blognya mbak Hany ada tantangan Membuat Bunga. Saya ingin mencoba ikut tantangan ini. Kebetulan sebelumnya saya memposting tentang Bros Bunga Kain Perca. 
Jadi klop lah.....
Ini dia Bros Bunga Kain Percanya :

 "Diikut sertakan untuk tantangan blog www.pojok-utak-atik.blogspot.com"

Doakan mudah-mudahan menang ya sahabat, aamiin.....

      Salam,

Jumat, 12 Desember 2014

Bros Bunga Kain Perca

Kali ini saya ingin sharing cara membuat bunga dari kain perca. Walaupun mungkin tutorial ini sudah banyak yang tahu, tetapi tidak ada salahnya kan saya ulangi ?!!....Kebetulan saya sedang membuat bros untuk seragam pengajian, jadi sekalian saja saya jeprat-jepret memoto untuk dishare di bilik hobiku ini.
Ya, itung-itung ini juga bagi saya untuk dokumentasi.
Baiklah, kita langsung saja yuk bagaimana cara membuatnya ?!........

Bahan : Kain perca, peniti bros, kain felt, sedikit dacron dan benang jahit
Alat : gunting, jarum pentul, jarum jahit dan lem tembak


Potong kain perca motif ukuran 5x5cm sebanyak 6 buah dan 3 buah lagi untuk kain polos.
Kain felt dipotong bundar dengn diameter 3,5cm, dan yang lainnya dipotong kecil bentuk love atau sesuai selera.

Ambil sedikit dacron dan taruh diatas kain perca motif

Lipat dan beri jarum pentul supaya tidak berubah, lakukan hal ini sebanyak 5 buah.

Susun kain yang telah diberi dacron tadi seperti di atas, lalu jahitlah/jelujur sekeliling pinggirnya. Dan tarik benangnya, lalu matikan jahitannya.

Nah, akan seperti inilah jadinya.....kelopak bunga.

Lakukan cara yang sama seperti pada kain motif untuk kain polos, dan susun seperti di atas lalu jahit dan tarik benangnya, matikan jahitannya.

Ini dia jadinya. Oh ya, jangan lupa rapikan bagian bawahnya dengan gunting.

Bentuk bundar sisa kain motif yang ke-6 dengan menggunting sudut-sudutnya.

Jelujur pinggirannya seperti membuat yo-yo.

Tarik benangnya sedikit, lalu taruh dacron secukupnya, kemudian tarik lagi benangnya, dan matikan jahitannya. Maka jadinya akan seperti gambar di bawah (bulatan).


Tempelkan bagian bawah kelopak bunga pada kain felt dengan lem tembak.

Susun kelopak yang polos di atasnya lalu lem, demikian juga dengan bulatannya. 

Tempelkan peniti bros seperti di atas dengan lem tembak.

Lalu kain felt bentuk love di lem di atas peniti. Selesai sudah bros bunganya.


Selamat bercrafting ria sahabat......

      Salam,

Rabu, 12 November 2014

Hanya orang Sunda yang mempunyai nama waktu tiap jamnya

Apakah diantara sahabat ada yang ingat Ceu Popong ?.....Itu lho, yang memimpin sementara sidang DPR !!
Mungkin diantara sahabat ada yang melihat tayangan di televisi waktu perebutan untuk jadi ketua DPR periode 2014-2019 yang lalu. Nah, sidang DPR ini dipimpin/diketuai sementara oleh anggota DPR yang tertua dan wakilnya yang termuda, yaitu dipimpin oleh Ceu Popong dan wakilnyaaaa.....saya lupa namanya siapa ya ?...heheh.
Eit, di sini saya tidak akan membicarakan politik lho !!.....Tapi tentang orang Sunda yang mempunyai nama-nama waktu tiap jamnya.
Lho, apa hubungannya dengan Ceu Popong ?.....Ada, karena apa yang akan saya uraikan mengenai judul di atas ini saya dapatkan dari Ceu Popong. 
 Jadi begini sahabat, waktu lihat Ceu Popong di sidang DPR itu, saya jadi ingat beberapa bulan lalu beliau pernah menguraikan tentang nama-nama waktu orang Sunda di televisi lokal IMTV Bandung (beliau memang jadi host televisi lokal tersebut bertajuk "Ngawangkong Sareng Ceu Popong").
Menurut beliau, hanya satu-satunya di dunia yang mempunyai nama waktu dari jam 01-24, yaitu di tanah Sunda. Di Indonesia sendiri kita hanya mengenal nama waktu seperti subuh, fajar, pagi, siang, tengah hari, sore, petang, magrib dan lain-lain (sekitar 9 nama, yang saya ketahui). Sedangkan di Sunda ada 24 nama waktu (tiap jam ada namanya). Tapi banyak orang Sunda yang tidak mengetahuinya.


Dulu orang Sunda menyebut waktu tidak dengan angka, melainkan dengan suatu nama. Nama tersebut menandakan waktu sesuai dengan angka jam. Nah, nama-nama waktu tiap jamnya ini, berhubungan dengan suasana dan kegiatan sehari-hari saat itu (dahulu). 
Untuk lebih jelasnya, inilah uraian yang dikemukakan Ceu Popong :
1. Jam 01 namanya Tumorek, mungkin asal kata dari torek yang artinya tuli. Jadi maksudnya sekitar jam 01-an orang tidur pulas sampai-sampai tidak mendengar apa-apa.
2. Jam 02 dinamai Janari Leutik. Janari artinya dini hari atau sama dengan sahur, leutik artinya kecil, jadi mungkin bisa diartikan dini hari awal atau waktu sahur lebih awal.
3. Jam 03 namanya Janari Gede. Bisa diartikan waktu yang pas untuk sahur.
4. Jam 04, Kongkorongok Hayam. Kongkorongok artinya berkokok, hayam artinya ayam. Biasanya jam begini waktunya ayam berkokok.
5. Jam 05 namanya Balebat artinya fajar.
6. Jam 06, Carangcang Tihang. Tihang artinya tiang, sedangkan carangcang......saya tidak menemukan kata carangcang di kamus praktis bahasa Sunda (mungkin kurang lengkap ?). Nama ini bisa diartikan waktu setelah fajar. Menurut Ceu Popong, sekitar jam 06 ini mulai terlihat jelas pohon-pohon dari jauh atau tiang-tiang rumah.
7. Jam 07 namanya Meletek Panonpoe. Meletek artinya terbit, dan Panonpoe artinya matahari.
8. Jam 08 namanya Ngaluluh Taneuh. Ngaluluh.....lagi-lagi saya tidak menemukan di kamus. Sedangkan Taneuh artinya tanah. Jadi sekitar jam 08 ini orang mulai bekerja di sawah ataupun berkebun.
9. Jam 09 diberi nama Haneut Moyan, Artinya Haneut adalah hangat, sedangkan Moyan artinya berjemur. Sekitar jam 09 itu sedang hangat-hangatnya untuk berjemur, karena matahari tengah naik.
10. Jam 10 dinamai Rumangsang, mungkin maksudnya udara sudah mulai terasa panas.   
11. Jam 11 namanya Pecat Sawed. Arti dari pecat yaitu lepas, sawed adalah tali dari kulit untuk mengikat leher kerbau pada pasangan bajak. Jadi biasanya sekitar jam 11 ini waktunya melepas tali dari leher kerbau.
12. Jam 12 namanya Tangange atau disebut juga Manceran, yaitu tengah hari.
13. Jam 13 disebut Lingsir, yang artinya bergeser. Atau biasa disebut juga Lingsir Ngulon yang artinya bergeser ke barat, maksudnya matahari bergeser ke barat.
14. Jam 14 namanya Kalangkang Satangtung. Kalangkang artinya bayangan, dan satangtung asal kata dari nangtung yang artinya berdiri. Jadi sekitar jam 14 ini panjang bayangan orang berdiri akan sama dengan tinggi orang itu.
15. Jam 15 dinamai Mengok. Artinya matahari sudah ada di barat.
16. Jam 16 Tunggang Gunung, artinya petang hari pada ketika matahari di atas punggung gunung (mulai akan masuk).  
17. Jam 17 namanya Sariak Layung. Layung berarti lembayung senja, saat bianglala merah merona di ufuk barat.
18. Jam 18 dinamai Sareupna, artinya hari mulai gelap, biasa disebut juga Sande kala, yaitu senja menjelang magrib. Disebut sande kala, konon katanya hantu suka berkeliaran ketika matahari mulai tenggelam. Dahulu, orangtua suka melarang (menakut-nakuti) anak-anak berada di luar rumah atau melarang kita tidur ketika menjelang magrib karena sande kala. Padahal mungkin bukan karena itu ya !?... Menurut sepengetahuan Ceu Popong (kata para ahli), kalau tidur menjelang magrib akan cepat pikun.
19. Jam 19, namanya Harieum Beungeut. Artinya harieum adalah warna merah tua yang hampir hitam. Sedangkan beungeut artinya muka/wajah. Ya, sekitar jam 19 hari memang sudah gelap.
20. Jam 20, disebut Sareureuh Budak. Sareureuh dari kata reureuh yang artinya istirahat, dan budak artinya anak kecil. Waktunya bagi anak untuk istirahat (tidur).
21. Jam 21 dinamai Tumoke, karena tokek (cecak besar) biasanya mulai suka berbunyi (tekkeeee....tekkeeee.....!!!!) sekitar jam 21 (di pedesaan suka banyak tokek, tidak seperti di kota, hampir tidak ada).
22. Jam 22 Sareureuh Kolot. Kolot artinya tua (dewasa). Waktunya orang dewasa istirahat/tidur.
23. Jam 23 namanya Indung Peuting. Indung artinya ibu, peuting artinya malam hari. Saya lupa apa yang diuraikan Ceu Popong (tidak keburu mencatat...heheh). Mungkin (???).....bisa diterjemahkan sebagai malam utama (?)...
24. Jam 24, dinamai Tengah Peuting Ngaweng-ngaweng. Ya, mungkin ini bisa diterjemahkan seperti tengah malam yang gelap gulita.

Nah sahabat, demikian uraian saya mengenai nama-nama waktu. Mudah-mudahan bermanfat dan menambah hasanah budaya dan bahasa di tanah Sunda khususnya. Indonesia memang sangat kaya akan budaya dan bahasa daerahnya. Saya makin cinta Indonesia !!....

  Dan mohon maaf bila ada kesalahan dalam menerjemahkan uraian yang disampaikan Ceu Popong.
Terima kasih Ceu Popong, karenamu saya jadi tahu bahwa "Sunda teh Adiluhung"....


Note : e ------> dibaca seperti mengucapkan huruf e pada kata enak.
        eu------> dibaca seperti mengucapkan salah satu kota di Aceh yaitu Meulaboh.



       salam,

Sabtu, 25 Oktober 2014

Memanfaatkan jilid/cover buku tulis bekas


Hallo sahabat, apa khabar ?...
Waaah...sudah 2 tahun ini saya meninggalkan bilik hobiku ini, untung saja nggak jamuran, heheh. Tidak hanya blogku saja, tapi juga selama ini saya tidak mengunjungi teman-teman blogger. Rasanya rindu sekali menyapa sahabat semua.
Oke, untuk kali pertama setelah lama tidak sharing, saya ingin berbagi dalam memanfaatkan barang bekas yang ada di sekitar kita. Kali ini adalah jilid/cover buku tulis bekas anak-anak saya, yang kalau dibuang rasanya sayaaang sekali....soalnya motif/gambarnya menurut saya bagus-bagus. Saya potong-potong cover ini menjadi 6,5 x 6,5 inch atau 16,5 x 16,5 cm.
Sebetulnya ukuran ini bisa lebih besar. Ukuran asli dari cover buku ini 18 x 25 cm (cover bagian depan/belakang), tapi berhubung bagian pinggirannya banyak yang sudah rusak (lecek), hanya selebar itulah yang bisa dipotong. Tapi sebesar apapun, masih bisa digunakan tergantung keperluan.

Untuk apa potongan-potongan cover ini ?.....Ya, saya 'sulap' menjadi laci-laci/drawers mungil.
Sahabat, saya ini lagi keranjingan membuat laci-laci dari barang bekas terutama dari karton ataupun bahan dasar kertas lainya.

Dan untuk 'rumah lacinya' atau chest, saya gunakan tetrapak/milkcarton :

Baiklah, kita mulai saja dengan bahan dan alat yang digunakan :
* 8 buah cover buku yang sudah dipotong ukuran 6,5 x 6,5 inch
* 8 buah cover buku ukuran 2,1 x 3,5 inch
* 7-8 buah tetrapak/milkcarton 1 liter
* 1 buah kertas kado
* gunting, cutter, mistar, doubletape, selotape, dan lem tembak

Dan ini tutorialnya :

Beri tanda pada cover yang sudah dipotong tadi dengan ukuran seperti di atas, lalu sepanjang ke 4 tanda ini ditekan dengan ujung gunting atau ballpoint bekas dengan bantuan mistar, agar mudah dilipat.

 Gunting seperti di atas, panjangnya 1,5 inch.

Lipat dan beri doubletape hingga menjadi kotak seperti gambar di atas.

Potong melengkung di tengah-tengah salah satu sisi cover ukuran 2,1 x 3,5 inch seperti di atas.

Kemudian tempel di salah satu dinding kotak tadi dengan doubletape....jadi deh sebuah laci mini.

Buat laci hingga 8 buah.

Buang tutup milkcarton, dan gunting ke 4 ujung segitiga milkcarton ini.


Gunting salah satu dinding milkcarton. Ini akan dibuat 'rumah laci' atau chest .


Lalu potongan tadi masukkan ke dalam salah satu dinding (kiri), beri lem tembak, lipat sisanya ke arah luar dan kemudian dilem tembak hingga ke belakang seperti gambar. Lakukan hal yang sama pada dinding sebelah kanan. Buat 3 buah lagi. Gabungkan ke-4 'rumah laci' ini dengan menggunakan lem tembak.

Potong milkcarton dengan panjang yang sama dengan panjang 'rumah laci', lipat menjadi dua ke arah panjangnya dan tempel pada bagian sambungan antara ke-2 'rumah laci' ini (lihat gambar!). Lakukan pada sambungan yang lainya dan jangan lupa juga pada bagian atas dan bawahnya.

Padahal belum selesai, tapi saya tidak sabar mencoba memasukkan laci-laci ini ke 'rumahnya', pas pisan. Waaahh....berantakan sekali mejanya ya, heheh.

Nah sekarang lapisi 'rumah laci' dengan kertas kado, gunakan selotape untuk menempelkannya..

Dan seperti inilah jadinya.

Tadaaa....ini baru selesai !!
Olala, cantiknya !!...Heheh muji sendiri.




Oke, mudah-mudahan ini akan menjadi inspirasi sahabat semua.
Dan... selamat bercrafting-ria !!...
(@_@)
      salam,

Rabu, 05 Desember 2012

Origami @ Photo Holder

Sahabat, mungkin pernah mengalami ketika ingin memajang photo, tapi frame/piguranya belum ada.....pasti deh ditunda dulu ya. Kalau nggak beli dulu, atau yang bisa bikin sendiri framenya pasti kelamaan...iya kan ?, sedangkan kita ingin segera memajangnya.....hmmm gimana ya ?
Jangan khawatir, ini dia solusinya....photo holder dari kertas. Kok bisa ?....pasti bisa, hehe !! Kita siapkan aja kertas, bisa kertas dari majalah bekas atau kertas lipat (untuk origami), yang penting tidak tebal dan tidak tipis.
Ukuran kertasnya tergantung keperluan, misalnya 15x15 cm.untuk photo holder yang kecil (tinggi sudah jadi  kurang lebih 7cm).
***

Ada yang tertarik membuatnya ?.....ini dia tutorialnya. Saya harap gambar-gambar di bawah ini mudah dimengerti sahabat semuanya :)....

Dan sekarang fotonya bisa dipajang,

Selamat berorigami-ria !!.....
(@_@)

      salam,

Kamis, 29 November 2012

T A R A S I (Terasi)

Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami menonton tayangan televisi swasta yaitu tentang pembuatan terasi (bahasa Sundanya tarasi). Terasi yang ditayangkan itu dibuat dari udang rebon yang diolah sedemikian rupa, sehingga jadilah terasi/tarasi.
Tapi di sini saya tidak akan menceritakan proses pembuatan terasinya ya....Saya hanya ingin bercerita sedikit tentang obrolan saya dengan suami saya ketika melihat tayangan
si terasi tadi.
Begini obrolannya,
Suami : "Wah, kalau anak-anak sering dikasih tarasi bagus pisan tuh !!"
Walaupun hati saya bertanya-tanya, tanpa curiga sedikit pun saya langsung menyahut. Saya pikir mungkin karena terasinya terbuat dari udang rebon, maka bagus untuk anak-anak. Lalu.....
Saya : "Iya gitu ??????"
Suami : "Iya dong, supaya  anak jadi tara sieunan !!...."
Saya : "....>o<   ?_!   >o<..."
http://www.emocutez.com
http://www.emocutez.com 

Waduh, tertipu lagi deh saya.....!
Kalau orang Sunda pasti mengerti percakapan tadi. Jangan khawatir bagi yang nggak ngerti, saya uraikan di bawah ini ya,....
tara, artinya tidak pernah
sieunan, artinya penakut, kata dasarnya sieun yang artinya takut
Jadi tara sieunan bisa diartikan tidak penakut.

Nggak nyambung kan antara terasi/tarasi dengan tidak penakut....hehe
Ya, begitulah......suami saya ada-ada saja !!

(@_@)

            salam,

Senin, 26 November 2012

Box ex Shoes for Drawers

Sahabat, apa kabar semuanya ?....sudah lama ya saya nggak muncul !

Oke, kali ini saya ingin berbagi mengenai kotak sepatu yang disulap jadi laci-laci keren. Sebetulnya sih sudah lama ingin sharing, tapi berhubung ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, baru hari inilah saya mencoba menulisnya.....
Baiklah, daripada banyak cuap-cuap, kita langsung saja lihat cara membuatnya yuk !....

Bahan dan alat yang diperlukan :
4 buah kotak sepatu dengan ukuran yang sama.

Kertas kado dan kardus bekas (cardboard) secukupnya. Oya, bahan tambahan yang lainnya manik mutiara dan kawat/wire, lem putih, lem tembak dan selotip.
Alat yang dibutuhkan : gunting, mistar, cutter, dan pensil.

Cara membuatnya :
Ambil tutup kotak sepatu, lalu buka lipatan-lipatannya dan gunting ujung-ujung lipatannya seperti no.1. ...bagian yang digunting hanya tiga saja ya, yang ujung kiri atas tidak digunting dan lipatannya juga tidak dibuka (A) seperti pada gambar no.2. Ambil satu lagi tutupnya, dan gunting juga ketiga ujung lipatannya....nah, kalau yang ini sebaliknya dari sebelumnya (B). Lakukan hal yang sama untuk kedua tutup kotak yang lainnya.

Beri lem di sepanjang bagian kanan tutup A

Tempel dan selipkan tutup B di atas tutup A yang telah diberi lem tadi.

Oya, beri jarak/celah diantara keduanya sekitar 1cm.

Setelah menempel seperti ini, lalu bagian bawah dari A&B juga diberi lem.

Lipat keduanya ke dalam, dan biarkan hingga lemnya kering.

Bagian yang dilipat tadi adalah untuk bagian depan, sedangkan yang ada celahnya adalah bagian belakang.
Buat lagi seperti ini (kita beri nama saja TUTUP A-B) untuk kedua tutup kotak yang lainnya.

Sambil menunggu kering, kita sisihkan dulu tutup-tutup tadi .....sekarang waktunya untuk membungkus/melapisi keempat kotak sepatunya dengan kertas kado.Lebihkan kertas kado sekitar 2cm untuk lipatan atas dan 1cm untuk lipatan bawah dari tinggi kotak. Lapisi kotak dengan kertas kado, lipat dan lem sisa kertas ke dalam kotak dan ke bawah kotak....untuk bagian sudutnya, gunting menyudut (lihat gambar !) agar rapi ketika dilipat dan dilem.

Naah....seperti ini bagian dalamnya. Rapi bukan ?!....

Tandai 2 titik ditengah depan laci (untuk handle laci) dan lubangi kedua titik ini.

Pasang beberapa manik mutiara pada kawat (panjang kawat 3x nya dari panjang handle laci), dan masukkan sisa kawatnya ke dalam 2 lubang tadi...

Tekuk kawatnya dan ikat kuat-kuat lalu tutup dengan selotip. Lakukan hal yang sama untuk ketiga kotak lainnya.

Setelah ke-4 kotak sudah jadi laci, kita sisihkan dahulu. Sekarang kita akan membuat 'rumah lacinya'....
Ambil 2 lembar cardboard dengan ukuran panjangnya laci (panjang TUTUP A-B) dan lebarnya 2x tinggi laci (jangan lupa dilebihkan beberapa cm). Ukur dan tandai dengan pensil pada kedua cardboard seperti gambar di atas.

Beri lem tembak pada salah satu sisi panjang TUTUP A-B

Tempelkan pada cardboard yang telah ditandai tadi. Lalu tempelkan juga sisi yang lainnya pada cardboard yang ke-2.

Setelah kedua sisi dari TUTUP A-B tadi dipasang, maka akan tampak seperti gambar di atas.

  Tambahkan/tempelkan cardboard di atas TUTUP A-B dengan ukuran yang sama, hal ini dilakukan supaya nantinya kuat menahan beban di atasnya (tidak melengkung).

Ukur dan tandai lagi kedua dinding cardboard dengan ukuran tinggi laci + 0,5cm di atas tutup tadi.

Potong sisa cardboard dengan cutter.

Pasang TUTUP A-B yang ke-2 tepat di pinggir ujung dinding (sejajar dengan ujung dinding) seperti gambar.
Gambar di atas adalah bagian belakang 'rumah laci'

Lalu tutup bagian atas dan dasar 'rumah laci' dengan cardboard, lem dengan lem tembak.

Bagian belakang juga ditutup dengan cardboard.

 Supaya lebih kuat dan rapi, beri selotip di setiap sudut luar 'rumah laci'

Lapisi 'rumah laci' dengan kertas kado.

Taruh laci-laci di 'rumahnya'. Selesai !!


Dari kotak sepatu juga bisa dibuat rak untuk wadah-wadah kecil bekas es krim seperti di bawah ini,

Semoga bermanfaat ya.....
Happy crafting !!
      
      salam,